Rabu, 13 November 2013

pengertian manajemen keuangan

ENGERTIAN  MANAJEMENMenurut Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber dayasumber daya organisasi lainnya agar rnencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Pengertian secara umum  manajemen pada dasarnya merupakan kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling).Jadi dapat disimpulkan bahwa baru dapat disebut sebagai manajemen apabila telah melewati rangkaian proses-proses fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling) dalam mencapai sebuah tujuan yang sama.PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGANManajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan menggunakannya se-efektif, se-efisien, seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba, atau dapat juga dikatakan bahwa manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.TUJUAN MANAJEMEN KEUANGANTujuan dengan adanya manajer keuangan untuk mengelola dana perusahaan pada suatu perusahaan secara umum adalah untuk memaksimalisasi nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin.FUNGSI MANAJEMEN KEUANGAN1.      Perencanaan KeuanganMembuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu.2.      Penganggaran KeuanganTindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.3.      Pengelolaan KeuanganMenggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.4.      Pencarian KeuanganMencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan.5.      Penyimpanan KeuanganMengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman.6.      Pengendalian KeuanganMelakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada paerusahaan.7.      Pemeriksaan KeuanganMelakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.EVOLUSI TEORI KEUANGAN1.      Konsep Pasar Modal Sempurna (Perfect Capital Markets)Kebanyakan dari teori keuangan awal dibentuk dengan asumsi pasar modal sempurna. Secara umum, pasar modal sempurna memiliki karakteristik sebagai berikut :a.       Tidak ada biaya transaksib.      Tidak ada pajakc.       Ada cukup banyak pembeli dan penjuald.      Baik individu maupun perusahaan memiliki kemampuan yang sama dalam akses ke pasare.       Tidak ada biaya informasi sehingga setiap orang memiliki informasi yang samaf.       Setiap orang memiliki harapan yang samag.      Tidak ada biaya yang berhubungan dengan hal kesulitan keuangan.Jelas bahwa tidak semua asumsi tersebut berlaku di dunia nyata. Namun demikian, suatu teori hendaknya tidak menilai dari realistis atau tidak asumsinya tetapi dinilai dari seberapa konsisten teori tersebut dengan perilaku yang aktual.2.      Analisa Arus Kas yang di Diskonto (Discounted Cash Flow Analysis)Pada manajemen keuangan, kita akan banyak berhubungan dengan aktiva finansial maupun aktiva riil yang nilainya diperoleh langsung dari seluruh arus kas yang akan dihasilkan oleh aktiva tersebut. Proses menilai arus kas di masa mendatang disebut analisis Discounted Cash Flow (DCF). Karena hampir semua keputusan keuangan berhubungan dengan masa mendatang, jelas bahwa keputusan keuangan selalu melibatkan analisis DCF. Konsep dasar DCF ada pada nilai waktu uang (time value of money) yang dikembangkan oleh John Burr Williams dan Myron J. Gordon.3.      Teori Stuktur Modal (Capital Structure Theory)Salah satu isu penting yang harus dihadapi oleh manjer keuangan adalah : "Bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan dana untuk membeli aktiva?" Apakah dengan meminjam (menggunakan hutang) atau menjual saham (menggunakan modal sendiri). Pada tahun 1958, Franco Modigliani dan Merton Miller (MM) mempublikasikan salah satu teori keuangan modern paling mengejutkan : mereka menyimpulkan bahwa nilai suatu perusahaan semata-mata tergantung pada arus penghasilan dimasa mendatang (future earnings stream), dan oleh karena itu nilainya tidak tergantung kepada struktur modal (perbandingan hutang dan modal sendiri) perusahaan. Pada paper mereka, MM menggunakan asumsi yang sangat ketat, termasuk asumsi pasar modal sempurna, asumsi ini menunjukkan bahwa:a.       Tidak ada brokerage cost.b.      Investor dapat meminjam pada tingkat bunga yang sama dengan perusahaan.Dalam teori Modigliani-Miller terdapat proposisi, yang dijelaskan sebagai berikut:a.      Proposisi Modigliani-Miller  (M&M), terdiri dari:      Dunia tanpa pajak (no-tax case)Dalam proposisi ini diasumsikan bahwa keadaan pasar modal sempurna dan tidak ada pemberlakuan pajak sehingga nilai perusahaan yang menggunakan utang  dengan perusahaan yang tidak menggunakan utang  menjadi sama.      Dunia dengan pajak (tax case)Proposisi ini mengasumsikan bahwa pasar modal sempurna dan diberlakukan pajak. Implikasinya adalah penggunaan utang dalam struktur modal menjadi sangat menguntungkan karena adanya tax shield. Sehingga nilai perusahaan yang menggunakan utang lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak menggunakan utang .Proposisi M&M ini memiliki kelemahan yang terletak pada asumsi dasar proposisi itu sendiri yaitu asumsi yang menyatakan bahwa tingkat utang tidak berhubungan dengan aliran kas (cash flow) perusahaan. Kelemahan ini disadari oleh Modigliani Miller, sehingga Modigliani-Miller menyebutkan bahwa asumsi pasar yang efisien merupakan dasar dari proposisi tersebut.Karena salah satu asumsi penting adalah tidak adanya pajak, model ini sering disebut model MM-tanpa pajak. Teori Modigliani-Miller (MM) ini tidak relevan dengan realita yang sesungguhnya terhadap struktur modal karena tidak menyertakan corporate tax atau personal tax yang ada dalam perusahaan.b.      Pada tahun 1963 Modigliani dan Miller mempublikasikan teori kedua, yaitu “Memperhatikan pajak“      Dengan adanya pajak maka nilai perusahaan dan harga saham dipengaruhi oleh struktur modal.      Semakin tinggi proporsi hutang digunkan maka semakin tinggi harga saham      Dengan demikian penggunaan hutang mengakibatkan pendapatan setelah pajak yang tersedia bagi pemegang saham menjadi lebih besardari pada jika perusahaan tidak menggunakan hutangDalam peneliatan lanjutan “bahwa penggunaan hutang memang akan meningkatkan nilai perusahaan“ , tetapi pada suatu titik tertentu yaitu struktur modal optimum, nilai perusahaan akan menurun dengan semakin besarnya proporsi hutang dalam struktur modalnya, kemudian model ini diperbaiki dan sering disebut Tax savings-financial costs trade-off theory.4.      Teori Dividen (Dividend Theory)Modigliani dan Miller juga menganalisis dampak kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan. Pada paper mereka, selain asumsi pasar modal sempurna, dimasukkan pula asumsi :a.       Kebijakan penganggaran modal perusahaan tidak dipengaruhi oleh kebijakan dividenb.      Semua invenstor berperilaku rasional.Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, mereka menyimpulkan bahwa kebijakan dividen akan mengurangi laba ditahan yang digunakan untuk membeli aktiva baru. Laba ditahan yang hilang harus ditutupi dengan menjual saham baru. Pembeli saham baru menghendaki dividen dan pembayaran dividen tersebut akan mengurangi nilai sekarang dari dividen yang akan diterima pemegang saham lama sejumlah sana dengan dividen yang mereka terima saat ini.5.      Teori Portofolio dan Capital Asset Pricing Model (CAPM)Teori Portfolio moder dikembangkan oleh Harry Markowitz tahun 1990 dan mendapat hadiah nobel. Pelajaran utama dari teori ini adalah secara umum , resiko dapat dikurangi dengan cara mengkombinasikan beberapa jenis aktiva beresiko daripada hanya memegang salah satu jenis aktiva saja. Implikasi dari teori ini adalah :a.       Investor harus membentuk portofolio (melakukan diversifikasi) untuk mengurangi resikob.     Resiko dari suatu aktiva individu harus diukur berdasarkan kontribusinya kepada resiko suatu portofolio yang terdiversifikasi dengan baik.Teori yang berkaitan dengan teori portfolio adalah Capital asset Pricing Model yang dikembangkan Sharpe, John Litner dan Jan Moissin yang secara terpisah menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang disyaratkan pada suatu aktiva berisiko merupakan fungsi dari tiga faktor, yaitu :a.       tingkat keuntungan bebas risiko,b.      tingkat keuantungan yang disyaratkan pada portfolio dengan risiko rata-rata danc.       volatilitas tingkat keuntungan aktiva berisiko tersebut.6.      Teori Penentuan Harga Option (Option Pricing Theory)Suatu option (opsi) adalah hak untuk membeli atau menjual suatu aktiva pada harga yang telah ditentukan sepanjang periode waktu yang telah ditentukan. Teori ini menawarkan suatu penilaian harga atau premi call dan put option. Implikasi dari teori ini adalah berkembang pesat untuk option, terutama option pada aktiva finansial,secara pesat di Amerika Serikat dan bursa besar lainnya diseluruh dunia. Teori ini membantu memahami penilaian sekuritas yang memiliki sifat option seperti warrant dan obligasi konversi. Teori ini secara formal dikembangkan oleh Fisher Black dan  Myron Scholes yang sering disebut Black-Ccholes Option Pricing  Model.7.      Hipotesis Pasar Efisien (Efficient Market Hypothesist)Salah satu teori keuangan yang penting adalah Efficient Market Hypothesis (EMH) yang dikemukakan oleh Eugene F. Fama. terminologi efisien disini merujuk pada efisien secara informasi (informationally efficient). Teori ini mengatakan jika pasar efisien maka harga merefleksikan seluruh informasi yang ada. Ironisnya, pasar dapat efisien hanya jika sejumlah besar orang percaya bahwa pasar tidak efisien sehingga mendorong mereka untuk mencari keuntungan di atas selayaknya (excess return atau abnormal return). Ada 4 kondisi yang diperluka agar suatu pasar efisien secara informasional :a.       Tidak ada biaya untuk informasi dan informasi tersedia unutk semua peserta pasar pada waktu yang samab.      Tidak ada biaya transaksi, pajak dan kendala perdagangan lainnyac.       Seorang pemodal atau institusi tidak dapat mempengaruhi hargad.      semua peserta pasar adalah rasionalNamun keempat kondisi tersebut tidak ada dalam dunia nyata, oleh karena itu perlu dibedakan antara pasar yang perfectly informationally efficient dan economically informationally efficient.  Pasar yang perfectly informationally efficient yakni yang memenuhi keempat kondisi tersebut, harga akan menyesuaikandiri dengan informasi baru secara cepat dan excess return hanya bisa diperoleh karen keberuntungan. Pada pasar yang economically efficient, harga tidak menyesuaikan diri dengan informasi baru secara cepat namun excess profit tetap tidak dapat diperoleh setelah jkeuntungan dikurangi dengan biaya informasi dan transaksi.Lebih lanjut menurut Hipotesis Pasar Efisien (Efficient Market Hypothesist), pasar efisien dapat dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu :a.      Pasar efisien bentuk lemahPasar efisien lemah terjadi jika harga sekuritas mengekspresikan seluruh informasi harga di masa lalu, sehingga upaya investor untuk memperoleh excess return dengan memanfaatkan data harga di masa lalu adalah sia-sia.b.      Pasar efisien bentuk semi kuatPasar efisien semi kuat terjadi bila harga sekuritas mencerminkan informasi harga historis plus informasi yang tersedia bagi publik (misalnya laporan keuangan, berita keuangan dan bisnis di media massa dll).c.       Pasar efisien bentuk kuatPasar efisiensi bentuk kuat terjadi bila harga sekuritas mengekspresikan seluruh informasi yang ada, baik harga sekuritas di masa lalu, informasi yang tersedia bagi publik, maupun informasi yang bersifat private.

Selasa, 12 November 2013

PERKEMBANGAN KEUANGAN PEMERINTAH DAN FISKAL

A. Perkembangan Fiskal
Pada kuartal I tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 6,02%, lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,29%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini disebabkan oleh masih rendahnya penyerapan APBN pada kuartal I 2013, berada di bawah 10%. Turunnya kinerja neraca perdagangan akibat penurunan harga komoditas dunia juga menjadi penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi kuartal I 2013. Kondisi ini kemudian menyebabkan perubahan asumsi makro yang kemudian diajukan dalam RAPBN-P 2013.
Tabel 3 : RAPBN-P 2013
Rencana kenaikan harga BBM menyebabkan peningkatan asumsi inflasi dalam RAPBN-P
INDIKATOR
APBN 2013
RAPBN-P 2013
Pertumbuhan Ekonomi (%)
6,8
6,3
Inflasi (%, YoY)
4,9
7,2
Nilai Tukar Rupiah (IDR/USD)
9.300
9.600
SPN 3 Bulan (%)
5
5
Harga Minya Mentah Indonesia (USD/barel)
100
108
Lifting Minyak (ribu barel per hari)
900
840
Lifting Gas (ribu barel per hari setara minyak)
1.360
1.240
Sumber: Kementerian Keuangan (2013)
Terdapat perubahan asumsi ekonomi makro yang diajukan dalam RAPBN-P 2013, pertumbuhan ekonomi turun dari 6,8% menjadi 6,3% yang disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang belum membaik. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meningkatkan asumsi inflasi dari 4,9% menjadi 7,2%.Indonesia Crude Price (ICP) meningkat dari USD 100 menjadi USD 108, lifting minyak dari 900 ribu barel per hari menjadi 840 ribu barel per hari, dan lifting gas dari 1,36 juta barel menjadi 1,24 juta barel per hari.
Selanjutnya, pendapatan negara dalam RAPBN-P 2013 yang akhirnya disepakati oleh Badan Anggaran DPR dan pemerintah hingga 14 Juni 2013 juga berubah dari pengajuan pemerintah sebelumnya. Dalam postur RAPBN-P 2013 yang disepakati, pendapatan negara ditetapkan sebesar IDR 1.502 triliun, lebih besar dari pengajuan pemerintah sebelumnya yang tercatat sebesar IDR 1.488 triliun. Dengan demikian, dibandingkan dengan RAPBN-P 2013 yang pertama kali diajukan, DPR berhasil meminta pemerintah menambah penerimaan negara sebesar IDR 13,679 triliun. Selain itu, belanja negara dalam RAPBN-P 2013 disepakati sebesar IDR1.726,19 triliun.
Terkait dengan BBM bersubsidi, penggunaan BBM bersubsidi pada bulan Maret 2013 sudah 6% melewati kuota yang ditetapkan. Diperkirakan kuota BBM akan kembali jebol tahun ini hingga mencapai 48,5 juta kiloliter, padahal dalam APBN 2013 kuota BBM ditetapkan sebesar 46 juta kiloliter. Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah untuk menetapkan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, mengurangi subsidi BBM untuk menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat dan terjaga.
Pada APBN 2013, total anggaran yang dialokasikan untuk subsidi BBM sebesar IDR 193,8 triliun. Jumlah ini melebihi separuh dari seluruh alokasi dana untuk subsidi. Pemerintah pusat menghabiskan 16,7% belanjanya untuk subsidi BBM. Bahkan jika dikombinasikan dengan subsidi listrik, jumlahnya mencapai23,8% dari APBN. Dana untuk subsidi ini hampir pasti akan lebih besar dari yang dianggarkan akibat konsumsi yang jauh melebihi kuota. Hingga pertengahan Juni, pemerintah dan DPR masih membahas RAPBN-P 2013 terkait wacana penaikan harga BBM.
Alokasi dana untuk subsidi BBM dinilai sudah terlalu besar dan mengancam keberlanjutan fiskal. Isu keadilan dalam pembelanjaan anggaran negara turut mencuat. Bayangkan saja, penerimaan negara yang dihabiskan untuk subsidi BBM yang notabene tidak tepat sasaran jauh melebihi belanja modal dan bantuan sosial yang masing-masing hanya IDR184,4 triliun dan IDR73,6 triliun dalam APBN 2013. Sebagai perbandingan, dana yang dihabiskan untuk subsidi BBM setara dengan biaya pembangunan 43 Jembatan Suramadu, 15 proyek MRT di Jakarta, atau 4.845 kilometer jalan tol. Konsumsi yang membengkak juga kemungkinan besar meningkatkan defisit APBN yang akan ditutup dengan penerbitan surat utang.
  
Gambar 10 : Belanja Pemerintah Pusat
Subsidi energi naik dalam RAPBNP 2013
 Sumber: Kementerian Keuangan (2013)
Terkait dengan wacana kenaikan harga BBM, pemerintah mengajukan skema kompensasi bagi rakyat miskin. Skema baru ini diberi nama Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang pada intinya tidak berbeda dengan BLT yang pernah diberikan terkait persoalan yang sama. Meskipun program pemerintah ini rawan diboncengi muatan politikpemerintah nampaknya tetap akan melakukannya.
BLSM rencananya akan diberikan kepada rumah tangga miskin, tujuannya adalah untuk mempertahankan tingkat konsumsi yang rentan terhadap kemungkinan adanya kenaikan harga kebutuhan dasar serta penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat miskin akibat dari gejolak yang ditimbulkan setelah diterapkannya kenaikan harga BBM. Alokasi BLSM pada RAPBN-P 2013 dianggarkan sebesar IDR 11,6 triliun yang nantinya akan dibagikan kepada 15,5 juta rumah tangga sangat miskin (RTSM) sebesar IDR 150 ribu selama 5 bulan. Namun Badan Anggaran DPR memutuskan BLSM sebesar IDR 9,3 triliun,sehingga tiap RTSM dapat dana sebesar IDR 150 ribu per bulan selama 4 bulan.
Tabel 4: Penerimaan Pajak dalam Negeri Periode 1 Januari hingga 30 April Tahun 2013 (dalam IDR Miliar)
Penghasilan pajak dalam negeri meningkat sebesar 9,04% pada periode 1 Januari hingga 30 April 2013 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Jenis Pajak
APBN 2013
Realisasi Januari – April
% thd APBN 2013
2013
2012
Pertumbuhan (%)
PPh Non Migas
513.508,98
142.971,73
139.976,17
2,14
27,84
PPh Migas
71.381,45
17.715,94
14.387,01
23,14
24,82
PPN dan PPnBM
423.708,25
106.642,75
90.268,58
18,14
25,17
PBB
27.343,81
443,37
1.081,29
-59
1.62
Pajak Lainnya
6.342,74
1.552,21
1.279,12
21,35
24,47
Jumlah
1.042.285,22
269.325,99
246.992,16
9,04
25,84
Sumber: Direktorat Jenderal Pajak (2013)
Penerimaan pajak selama ini merupakan andalan utama penerimaan negara. Namun, target penerimaan pajak pada tahun 2013 diperkirakan mengalami penurunan dari IDR 1.193 triliun sebagaimana ditetapkan dalam APBN 2013 menjadi IDR 1.139,3 triliun dalam RAPBN-P 2013. Penurunan ini disebabkan antara lain oleh lambatnya laju ekspor dan melemahnya pertumbuhan ekonomi nasional akibat tekanan dari ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Tabel 4 menjelaskan penerimaan pajak dalam negeri hingga April 2013, tanpa penerimaan cukai. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012, penghasilan pajak dalam negeri meningkat sebesar 9,04% pada periode 1 Januari hingga 30 April 2013. Secara umum Pajak Penghasilan (PPh) Migas dan Non Migas, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), serta Pajak Lainnya mengalami peningkatan pada periode 1 Januari hingga 30 April 2013 dibandingkan periode yang sama tahun 2012. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menjadi satu-satunya sumber pajak yang mengalami penurunan sebesar 59%.
Potensi penerimaan negara yang berkurang disertai dengan kuota subsidi BBM yang melebar perlu diwaspadai. Untuk mengantisipasi defisit yang semakin besar, penyesuaian anggaran pada APBN-P 2013 dilakukan. Dalam RAPBN-P 2013 pemerintah mengajukan target defisit sebesar 2,48% dari PDB. Target ini lebih tinggi dibandingkan dengan defisit anggaran pada APBN 2013 yang ditetapkan sebesar 1,65%dari PDB.
Tabel 5: Defisit Anggaran dalam APBN dan RAPBN-P 2013 (dalam IDR Miliar)
Defisit anggaran diperkirakan meningkat menjadi 2,48% terhadap PDB
URAIAN
APBN 2013
RAPBN-P 2013
SURPLUS DEFISIT ANGGARAN
(153.338,0)
(233.705,0)
     % Defisit terhadap PDB
(1,65)
(2,48)
PEMBIAYAAN DALAM NEGERI
172.792,1
250.574,8
     Perbankan dalam negeri
14.306,6
34.556,6
     Non perbankan dalam negeri
158.485,5
216.018,2
PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto)
(19.454,2)
(16.869,8)
     Penarikan Pinjaman LN (bruto)
45.919,1
49.039,8
     Penerusan Pinjaman (SLA)
(6.968,3)
(6.699,8)
     Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN
(58.405,0)
(59.209,8)
Sumber: Kementerian Keuangan (2013)
Dalam Nota Keuangan dan RAPBN-P 2013, perkiraan penurunan pendapatan negara diperkirakan sebesarIDR 41.347,7 miliar (2,7%). Defisit anggaran semakin memburuk karena disertai dengan peningkatan belanja negara sebesar IDR 39.019,3 miliar (2,3%). Rencana pembiayaan defisit tersebut akan dibiayai dari peningkatan pembiayaan dalam negeri sebesar IDR 77.782,7 miliarmeningkat dari rencana semula sebesar IDR 172.792,1 miliar dalam APBN 2013 menjadi sebesar IDR 250.574,8 miliar. Sedangkan pembiayaan luar negeri neto akan turun IDR 2.584,3 miliar, dari defisit IDR 19.454,2 miliar menjadi defisitIDR 16.869,8 miliar. Penurunan ini disebabkan peningkatan penarikan pinjaman luar negeri yang lebih besar dibanding kenaikan penerusan pinjaman dan pembayaran cicilan pokok utang.
B. Perkembangan Utang Negara
Gambar 11 : Komposisi Surat Berharga Negara
Obligasi negara dengan tingkat bunga tetap masih mendominasi pasar keuangan Indonesia
 
Sumber: Bank Indonesia, Kementerian Keuangan dan CEIC (2013)
Total Surat Berharga Negara (SBN) outstanding yang dapat diperdagangkan per 31 Mei 2013 mencapai IDR 1.191,22 triliun meningkat sebesar IDR 124.92 triliun dibandingkan dengan SBN outstanding per 30April 2013 yang tercatat sebesar IDR 1.066,30 triliun.
Komposisi SBN outstanding periode Mei 2013 paling besar adalah obligasi negara dengan tingkat bunga tetap, tercatat sebesar IDR 672,39 triliun. Sementara itu, Surat Perbendaharaan Negara (SPN/Treasury Bill) pada Mei 2013 tercatat sebesar IDR 22,47 triliun menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat mencapai IDR 21,02 triliun. Sedangkan, obligasi negara dengan tingkat bunga mengambang tidak mengalami perubahan sepanjang awal tahun 2013 hingga Mei 2013, tercatat mencapai IDR 122,75 triliun.
Gambar 12 : Kepemilikan Asing atas Surat Berharga
Total kepemilikan asing atas surat berharga meningkat.
Catatan : Kepemilikan Asing Atas SBI dan SBN : Mei 2010 s/d Mei 2013
             Kepemilikan Asing Atas Ekuitas Saham : Mei 2010 s/d April 2013
Sumber: Bank Indonesia, Kementerian Keuangan dan CEIC (2013)
Total kepemilikan asing atas SBN dan ekuitas saham menunjukkan peningkatan sepanjang awal tahun 2013 hingga Mei 2013. Total kepemilikan asing di SBN pada Januari 2013 tercatat sebesar IDR 273,2 triliun, naik menjadi IDR 302,94 triliun di bulan Mei 2013. Jika dibandingkan dengan Mei 2012, total kepemilikan asing untuk SBN meningkat sebesar IDR 78,44 triliun pada Mei 2013.
Terkait kepemilikan asing atas SBI, pada Mei 2013 nilai kepemilikannya mencapai IDR 1.02 triliun, menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat mencapai IDR 1.65 triliun. Begitu pula jika dibandingkan dengan keadaan pada Mei 2012, kepemilikan asing atas SBI pada Mei 2013 tercatat turun sebesar IDR 0,63 triliun. Hal ini nampaknya masih dipengaruhi oleh 6 months holding period yang telah diterapkan oleh Bank Sentral sejak 13 Mei 2011.